skip to main | skip to sidebar

Pages

  • Beranda
  • Kuliner
  • Kecantikan
  • Hobby
  • Cerita

KANTOR KEDUA OCHY

Welcome To Blog


Cerita

|

CINTANYA BERPALING PADAKU
Oleh Salim Khudori

 Icha membanting tubuhnya di atas ranjang. Matanya berkaca-kaca, masih tidak percaya. Rio, cowok dengan postur tinggi & item manis. Orang yang selama ini ia kenal sebagai pacar dari Fina, salah satu sahabat karibnya. Dan dia tahu betul, Fina sangat mencintainya, dengan segala cara Fina mati-matian untuk mempertahankan cinta Rio. Tetapi, kejadian tak disangka tiba-tiba terjadi. Rio menyatakan cinta padanya. Ini pasti akan menjadi sebuah dilema cinta.
    “Aku sayang kamu, aku cinta kamu..??”Photobucket
    “Apa aku salah, Cha..??”
    “Aku rela memutuskan Fina, kenapa, itu karena aku tidak bisa membohongi perasaanku padamu Cha”.
    Kata-kata itu selalu terngiang di telinganya. Beberapa jam yang lalu, Rio mengatakan semua yang ada dalam hatinya. Masih tak habis pikir, merasa dunia tak adil. Gadis yang sekarang duduk di bangku kelas XI SMA menangis sejadinya. Walaupun tak mengeluarkan suara.
    Ia kehilangan semua moodnya untuk belajar. Untung besok adalah hari minggu, yang dia anggap adalah hari kebabasan untuk meluangkan waktu dan membuang semua kejenuhan yang dihadapi setelah disuguhi seabreg kegiatan dan pelajaran di sekolah.
    “Tuhan, What happen with me..??”
    Dalam hati ia selalu bertanya-tanya.
    “Arrrghhh, kenapa semua ini terjadi padaku?”
    “Apa yang akan dikatakan Fina kepadaku jika ia tau semua ini. Apa yang akan dikatakan oleh teman-temanku?”
    “Aku tak bisa, aku bukan perebut cowok orang !”
    ***
    Lalu ditelfonlah Dony, sahabat sekaligus sepupu. Yang dia anggap adalah sahabat yang paling gokil dalam segala perbuatan juga aktivitasnya sehari-hari, yang paling penting tentu bisa mengerti setiap dia berkeluh kesah padanya.
    “Tuutt… Tuutt… Tutt…”
    “Hallo, selamat malam, pembasmi serangga siap membantu anda”
    “Kami akan melayani anda seprofessional mungkin. Semua jenis serangga akan kami basmi”. Hehehe….
    Suara bercanda Dony terdengar dari kejauhan. Tetapi ia belum bisa bicara, bibirnya masih kaku untuk mengucapkan kata-kata. Suaranya serak, karena hampir dua jam dia menangis.
    “Hallo, selamat malam, pembasmi serangga siap membantu anda”
    “Kami akan melayani anda seprofessional mungkin. Semua jenis serangga akan kami basmi”. Hehehe….
 
    Dony mengulangi kata-katanya.
    Dan barulah ia mengucapkan kata-kata yang terdengar serak.
    “Aku mau curhat Don. Aku bingung, harus bagaimana..??”
    Dan langsung saja dony, dengan keisengannya menjawab.
    “Wakh,, ada yang salah nich. Minum obatnya ketuker sama racun tikus ya..??”
    Dengan nada memelas serta suara serak Icha menjawab.
    “Serius ini, ada waktu kan buat dengerin?”
    Dengan PD-nya dony langsung menjunjung tinggi rasa persahabatan & persaudaraan. Tentu dengan versinya sendiri. “Ia… ia… maaf, buat sahabatku. Apa sich yang nggak.. hehe..??”
    “Gini don, kamu tahu Rio kan?”
    “Ia, tahu. Pacarnya Fina kan? Ada apa dengan dia?”
    “Dia tadi ke rumahku, dia bilang sangat mencintaiku, dia memaksa aku jadi pacarnya.”
    “Yess..!!”
    “Ko, Yess. Eman

g kenapa?”
    “Aku bakal dapat traktiran makan gratis nich” hehehe
    “Akkhh,, Donyyyy… jangan bercanda dulu kenapa sich..?? Orang lagi serius juga”. Suara memelas dan manja keluar dari mulut Icha.
    “Ia,, maaf lagi dech. Emang kenapa, toh kamu lagi jomblo, orangnya biarpun item manis, cakep juga, lumayan lah?” kata Dony mencoba menghibur.
    “Bukan itu masalahnya, kamu nggak pernah tau kan kalau Fina sangat mencintai Rio..?? Dia mati-matian mempertahankan cinta hanya untuk seorang Rio. Kemarin ada 2 cwok yang nembak Fina, juga dia tolak”. 
    “Ooo… begitu, terus mau bagaimana?”
    “Aku bingung, aku nggak tahu, apa yang harus aku lakukan”.
    “Ya, udah, besok aku temenin ke rumah Fina, nglurusin masalah ini baik-baik. OK?”
    “Hah,, apa kamu sudah gila. Mau bilang Fina ke aku. Bisa-bisa aku akan langsung kena semprotan dari Fina?”. Sontak saja icha langsung mengeluarkan kata-kata emosinya.  Dengan santai dan bijaksananya dony menjawab.
    “Terus… mau sampai kapan kamu pendam? Kalau Fina sudah tahu pasti semuanya akan terasa tenang & masalah clear. Mau nggak, kebetulan besok hari Minggu, aku juga libur kerja. Kalau nggak mau ya sudah”.
    Ichapun bingung memikirkan semua itu. Mungkin sudah buntu pikirannya. Dan mau saja mengikuti ajakan sahabatnya.
    “Ia dech, tapi kamu yang ngmong ya..??
    “Lhoo. Kok aku sih, yang punya problem kan kamu”
    Lagi-lagi icha dengan memelas dengan setengah merayu. Dia paling tahu kelemahan Dony. Kalau dony tidak akan tega melihat orang kesusahan, apalagi seorang perempuan.
    “Ayo donk, please. Bantu aku, katanya sahabatku”
    Dan benarlah, dony langsung menyetujui permintaanya.
    “Ya udah, sekarang aku mau tidur dulu. Ngantuk banget.”
    “He’Em,, makasih don. Besok pagi langsung ke rumahku ya..??”
    “Ia..ia.. aku pagi-pagi ke rumahmu. Udah ya, tinggal 
½ watt nich. Bye…” “Tut…tut…tut..”
    Telponpun diputuskan oleh Dony. Dengan setengah menggerutu. Huh, kebiasaan banget. Belum dimatiin, udah dimatiin duluan.
    Tetapi, icha juga sangat tau kalau dony kecapean habis kerja seharian. Apalagi kerja di bidang jasa, pasti sangat capek. Menghadapi 1001 macam karakter orang, tapi selalu dia bisa membuat dirinya tersenyum seperti sekarang ini. Makanya dia memasukkan dony ke daftar sebagai sahabat yang paling baik. Walaupun kadang memang membuat kesal setengah mati. 

Akhirnya, ichapun mencuci mukanya yang lusuh oleh air mata telah kering. Lalu merebahkan badan serta memejamkan mata. Karena Icha juga sangat capek, setelah seharian diboombardir ulangan 3 mata pelajaran. Ditambah lagi Rio yang barusan membuat dirinya kaget, hampir mencopot jantungnya.


    ***
    Minggu yang cerah adalah hari yang asyik bagi para kaum muda. Apalagi yang sudah punya pasangan. Mereka pasti akan memanfaatkan momentum itu untuk sekedar berjalan-jalan mungkin atau aktivitas lainnya, walaupun dalam 1 bulan ada 4 kali hari minggu, tetapi tidak ada bosannya menunggu hari minggu tiba. Tetapi, tidak bagi Icha sekarang, yang sedang diberondong dengan sejuta masalah baginya. Ketika dia bangun, sangat malas untuk beraktivitas. Padahal biasanya hari minggu adalah hari yang paling istimewa dalam hari-harinya. Dengan langkah lesuh, dia menuju kamar mandi untuk menyegarkan badan sebelum dony datang. Icha tidak mau, dony nyerocos menceramahinya ketika ia datang, belum sempat mandi. Kemarin dony sudah berjanji akan datang pagi-pagi.



    ***
    “Permisi… tok… tok… tok…”.
    Suara dony berubah menjadi kakek-kakek, ketika mengetuk pintu untuk menemui Icha di rumahnya. Dan langsung mama icha yang sedang berada di dapurpun langsung bergegas membukakan pintu untuk tamunya. Ketika mamanya yang tak lain adalah tantenya membukakan pintu.
    “Ya ampuuunnnn,,,, kamu lagi, kamu lagi don, gak ada kapoknya ya ngerjain tante”. Dengan setengah kesal mama icha mengomeli ponakannya yang isengnya kadang keterlaluan. Memang, tidak Cuma 1 kali mama icha tertipu dengan ulahnya dony. Tapi, ya seperti biasa dony hanya melontarkan senyum khasnya untuk tantenya itu, seolah tak mempunyai dosa sedikitpun.
    “Hehehehe… maaf, Tan. Ichanya ada..??”
    “Awas,, ya, sekali lagi..!! Ada, baru selesai mandi tuch”
    “Yaudah masuk, tante lagi masuk, ntar gosong lagi”
    “Ia… ia… ia… ngomel mulu, cepet tua tan. Hehehehe”
    Lagi-lagi dony membuat kesal kepada tantenya. Sehingga tantenya pun mengeluarkan jurusnya.
    “Ya ampuunn,, ini anak satu. Berbalik sambil menjewernya”
    “Peace… Tan. Peace… Ampun !!” bujuk dony kepada tantenya agar melepaskan tangan dari telinganya.
    “Ada apa sich, pagi-pagi dah ribut-ribut. Kayak anak kecil aja”. Tiba-tiba icha muncul dari dalam.
    “Udah-udah, mama ke dapur lagi, gosong tuch masakan”, lalu mama ichapun kembali ke dapur meninggalkan keponakannya yang super rese itu. Icha sudah tahu betul kelakuan sepupunya kepada mamanya. Ichapun langsung meluruskan permasalahan kepada dony, dan mengajak ke rumah fina.
    “Jadi, gimana..?? ke rumah fina sekarang..??” tanya icha kepada dony.
    “Nggak, besok aja sekalian” Dony menjawab dengan agak ketus, karena kesal.
    “Hehehe… ia.. ia.. ayo berangkat, jangan manyun begitu”, canda icha kepada dony. Akhirnya mereka berdua menuju ke rumah fina.
    ***
    Tapi apa yang terjadi, tanpa disangka, tanpa direkayasa, dan di luar skenario, kalau bahasa pertelevisian. Sesampainya di rumah fina, rio & fina sedang di ruang berdua seperti larut dalam kesedihan. Ichapun melangkah lemas, ketika dipersilahkan duduk oleh fina. Bagaimana tidak sahabat yang selama ini jadi pendengar setia ketika icha sedang diberondong masalah dalam hidupnya. Sekarang ia bersedih karena dilema yang menyangkut dirinya. 10 menit mereka berempat membisu. Suasana menjadi sangat amat dramatis seperti di film Titanic ketika Jack menyelamatkan kekasihnya Rose. Atau mungkin seperti Fahri di Ayat-Ayat Cinta ketika dihadapkan kepada dua perempuan yang dicintainya. Dony anak super resepun hanya diam ikut larut dalam suasana pagi itu.
    “Cha… aku akan ikhlas jika semua ini yang terbaik untuk rio, semua ini memang sudah suratan. Kamu jauh lebih baik daripada aku. Please banget, bahagiain dia. Kita akan tetap bersahabat. Aku hanya memohon 1 permintaan saja, jangan pernah kau sakiti dia”. Fina memecah kebisuan sambil meneteskan air mata.
    “Tapi fin..??” belum selesai icha berpendapat, sudah dipotong dulu oleh Rio.
    “Fin, kamu percaya kan. Semua akan indah jika kamu menerimanya dengan tulus..?? Cinta ini akan mengalir seperti air di sungai. Cinta ini akan abadi jika kamu memang cinta dengan persahabatan ini. Fina sudah rela aku untukmu, aku tinggal menunggu keputusanmu”.
    Fina tak mampu berkata-kata lagi, kepalanya berat tak tertahankan. Jiwanya seperti akan keluar dari raganya.
    Suara teleponpun berdering, icha dengan setengah sadar mengambil dan melihat “Rio memanggil..”. Icha baru sadar ternyata semua yang dialaminya adalah mimpi. Jantungnya masih berdegup dengan kencangnya. Darahnya mengalir deras. Keringat dinginpun keluar. Apakah ini pertanda akan mulainya segala mimpi itu. Hanya Icha dan Tuhan yang tau. 






---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Cerpen Romantis - Bintang Untuk  Thisa

Bintang kelihatan terburu-buru keluar dalam kelas , sehabis pelajaran usai , ia pun tak lagi sempat berbincang-bincang dengan teman nya , dengan langkah cepat dan sedikit berlari -lari kecil ,meninggalkan teman- teman nya .

teman- temanya pun pada heran ,

“Bin, buru-buru amat , gk ikut ngumpul rumah Tia nech ,???( teriak Ewin salah satu dari teman nya Bintang )

“Maaf, win udah telatttt gk bias ikutan , sahut Bintang dari kejauhan

*****

Bintang pun berlalu meninggalkan sahabat nya,

Sehabis pulang sekolah , Bintang harus memenuhi kewajibannya sebagai seorang operator salah satu warnet , tapi untuk hari ini ia telat soal nya tiba – tiba ada pelajaran tambahan dari salah satu mata pelajaran, dan hal itu juga yang buat dia terburu-buru.

Bintang pun menarik nafas lega karena hanya telat 15 menit, dari jam masuk ia bekerja,

“Mas maaf telat nech, tadi mendadak di sekolah ada pelajaran tambahan ,

“owh iya bin ,tidak apa-apa,

“Terima kasih mas , aku gnti baju dulu mas,

Bintang setiap pulang sekolah , memang menghabiskan waktu nya untuk bekerja di salah satu warnet sampai jam 20.00 malam, kecuali hari libur , biasanya dari jam 08.00 pagi sampai jam 17.00 sore . Lagi pula ia memang anak yang mandiri, tidak mau bergantung sama orang tua.

Agus, yang biasa bintang panggil dengan sebutan “mas” , adalah pemilik Warnet , dan Mas Agus menganggap Bintang itu sudah seperti saudaranya sendiri.

“Bin, lain kali kalo kamu gak sempat jaga bilang aja,

Jangan di paksain , boleh kerja tapi sekolah tetep yang utama,

“oh ya, klo mo mkan ambil ajja di dapur gk usah sungkan, anggap aja rumah sendiri

Mas pergi dlu yach ada urusan,

“terima kasih mas, sahut bintang .

****

Bintang pun melanjutkan pekerjaan, selain Game online, tempat kerja bintang juga menerima jasa pengetikan,

“Akhirnya , selesai juga pekerjaan ku, Gumam bintang dalam hati

“Saat nya fb-an , tersenyum girang.

Itulah Bintang tiada hari tanpa fb (facebook), gk di warnet, gk d rumah, OL terus, sampai2 sahabat nya mnyebut nya “si Ratu Online”

Bintang pun mulai membuka fb nya , di lihat nya ada satu permintaan pertemanan

Seorang cewek, pake jilbab, nama nya Thisa Amanda , Bintang pun mengkonfirmasi nya

Tidak lupa juga Bintang menulis di wall Thisa sekedar ucapan terima kasih.

“thanks yach udah add, salam kenal “

Tak lama kemudian , ada 1 pemberitahuan ,

(Thisa Amanda mengirikam sesuatu di Dinding Anda )

“Iya sama-sama, slam kenal juga, “

Bintang pun, melihat info Thisa Amanda tersebut , ternyata lebih tua dari dia,

Seorang mahasiswa Jurusan Syari'ah Ekonomi Islam .

Di lihat nya di teman obrolan ternyata Thisa OL juga,

Bintang pun sok kenal memulai chat itu

Dan mendapat respon dari Thisa tersebut ,

Mereka saling Tanya, nama, alamat rumah, dan ternyata Thisa itu juga bekerja sebagai operator warnet , dan waktu ia bekerja sehabis pulang kuliah, sampai sore .

Dari dunia maya itu lah keakraban mereka di mulai, Hampir setiap hari Bintang dan Thisa sering bertemu di obrolan fb, mereka sharing2 gt,bahkan Bintang tdk segan2 kadang sering curhat sama Thisa orang yg baru ia kenal lewat dunia maya.

********

Telaatttttttttt!!!!!. Hal yang hampir setiap hari di alami Bintang setiap berangkat sekolah, Klo tdk kesiangan paling ketinggalan bis, dua hal yang tidak bisa di hindari oleh bintang , sesampai nya di kelas, dengan keringat yang bercucuran, sambil duduk d kursi nya dan mengatur nafas nya,

Ewin, sahabat nya memberinya air minum,

“Telat lagi bin, ???kesiangan atau ketinggalan bis??tanya ewin

Sambil tersenyum, Bintang berkata “ yach gt dech “

Mereka pun tertawa,

Sahabat2 nya yang lain pun menghampiri ewin dan bintang yang lagi asyik ngobrol berdua,

“eh Sang Penghuni Langit Malam, udh datang “, Sahut Tia (salah satu sahabat bintang jg)

“ketinggalan bis, atau insomnia kamu kambuh lagi Bin, “tempel memei.

“Wajar lah me mei, sebagai PLM(Penghuni Langit Malam) kan harus setia menerangi langit malam,kalian gk liad apa semlam banyak BINTANG bertaburan di angkasa , “tambah Vina.

Semua pun pada tertawa, Bintang hanya tersenyum melihat lelucon para sahabat nya.

Ewin, Tia, memei, dan Vina adalah sahabat nya Bintang, dan PLM alias penghuni langit malam, itu sebutan dari teman –teman nya untuk Bintang .

Pelajaran pertama hari ini,kosong. Guru nya lagi berhalangan hadir , Bintang dan sahabat nya pun langsung menuju kantin untuk sekedar mengisi perut atau hanya beli cemilan saja.

Semua teman-teman nya pada pesan makanan di kantin sekolah, Cuma Bintang yang tidak pesan , dia Cuma beli minuman dan makanan ringan saja , soalnya bintang tidak terbiasa makan pagi ,

Melihat suasana kantin yang begitu ramai , ribut , bintang pun memutuskan untuk pergi ke perpustakaan.

“win, aku ke perpustakaan dulu yach,(sedikit berbisik)

“ya udah, ntr aku nyusul.”

“Guys, guys, aku ke perpust, (kepada sahabat yang lainnya)

Sahabat nya hanya menganggukan kepala nya , soal nya mereka lagi asyik menyantap makanan mereka .

******


Selesai dari kantin, Ewin pun langsung ke perpustakaan, kebetulan lagi jam istirahat, sementara teman yang lain nya langsung balik ke kelas,

“Bin, komik baru yach ???

Tumben baca komik??? Emang tau ??Ledek Ewin

“hahaii, ne lagi belajar baca win, coba-coba

“Win, gk nyambung ne komik, keluh bintang.

“ya gak nyambung lah, kamu terbalik baca nya ,

Dimna2 baca komik tuh dari belakang , (sambil geleng2 kepala)

Pesbukan aja , huhh dasar>>

Bintang hanya tertawa mendengar ocehan ewin ,sahabat nya itu ,
******

Dan seperti biasa setiap pulang sekolah, Bintang ke warnet dan hari ini dia dtang lebih awal,

“Siang, massss…

“eh bintang, tumben awal, Tanya mas agus

“ia mas , lagi tidak ada pelajaran tambahan,

“owhh, ya udah kamu makan siang dulu, abis itu baru jaga

“iya, mas, makasih….

Bintang pun kembali ke aktivitas sperti biasanya, berhubung tidak ada ketikan, jadi bintang hanya Sibuk Fb an, dan kembali lagi bertemu dengan Thisa Amanda .

Dan sperti biasa, Mereka pun asyik ngobrol,lewat fb ,Cuma sebentar karena thisa lagi bnyak tugas .

Bintang pun coba-coba lihat pertemanan Thisa tersebut, dan ternyata Thisa juga sudah berteman dengan slah satu teman nya bintang, Fita nama nya, Cuma mereka beda sekolah.

Dan kebetulann sekali, si Fita Muncul di obrolan fb, mereka memulai chat,

Bintang pun tak lupa menanyakan tentang Thisa kepada Fita , ternyata Thisa itu temannya Fita jg , mereka juga kenalan lewat dunia maya, bahkan fita juga bilang kalo mereka juga sering sms an, sekedar sharing2 dan curhat- curhat gt, bintang pun meminta nmr hp Thisa dan tanpa banyak Tanya fita pun memberikan nmr hp Thisa tersebut.

Bintang sangat senang sekali, entah kenapa dari awal perkenalan itu, bintang ingin sekali kenal lebih dekat dengan seorang Thisa Amanda, dan keinginan nya itu pun terwujud lewat teman nya fita. Walaupun hanya sekedar nmr hp.

*****
Malam itu, Bintang tanpa sedikit ragu coba sms Thisa walauppun hanya sekedar mengirim kata- kata.

Tak lama kemudian , balasan sms pun datang

Thisa message : maaf ini siapa?

Bintang message: aku PLM (Penghuni Langit Malam)

Thisa message :mksud nya????

Bintang message: aku kak, B.i.n.t.a.n.G, hehehehhehe

Thisa message : owh dek Bintang , dapat nmr kakak dari siapa???
Bintang pun menjelaskan semuanya , klo dia dapt nomor hape k’Thisa dari seorang teman nya yang juga teman nya Kak thisa .

Mulai dari malam itu , keakraban Bintang dan Thisa semakin terjalin,

Mereka sering telpon-telponan, bhkan bintang sangat tidak sungkan mencurahkan isi hatinya dengan seorang thisa yang baru ia kenal, nth kenapa Bintang merasa Nyaman cerita dengan kak Thisa di banding sahabat2 nya,bahkan Bintang sudah menganggap Thisa sebagai kakak nya. Sejak dari dulu Bintang merindukan kasih sayang seorang kakak, dan itu ia dapatkan dari seorang Thisa Amanda , Bahkan tanpa sungkan, Bintang sering manja dengan kakak nya itu,

Semenjak mngenal Thisa Amanda, hari hari bintang penuh keceriaan, tiada lagi kesedihan di wajah nya . meski mereka terpisah jrak dan waktu, Bintang yakin suatu saat mreka akan d pertemukan, ,

****


Ternyata, keakraban yang terjalin diantara Bintang dan Thisa tidak berjalan mulus , banyak rintangan yang menghadang , salah satunya dari sahabat2 nya Thisa, melihat keakraban thisa dan Bintang , sahbat thisa menganganggap itu hal yang tidak biasa, bermacam2 fikiran negative pun muncul, sahabat nya menganggap kalo Bintang itu punya kelainan seksual alias”Suka sesama jenis “, . Dan itu membuat Thisa terkejut, tidak menyangka kalo sahabt2 nya bias berfikiran sperti itu tehadapa Bintang adik nya,

Thisa tidak tahan dengan semua tuduhan teman nya itu ,dan sampai suatu ketika ia pun menyuruh bintang buat menjauhinya , lewat sms :
Thisa message:Ass, Bintang, kak Thisa sayang bgt sama adek, ini kakak lakukan demi

Kebaikan adek, banyak hal tak bisa kakak jelaskan,kakak harap adek mngenal kakak cukup sampai di sini, Bintang jaga diri baik- baik yach, semoga Allah selalu menjaga mu saat penjagaan kakak tak sampai. “

Bintang pun tersentak kaget membaca pesan itu, nafas nya terasa sesak, ia pun tidak terima dengan semua itu, tanpa alasan yang jelas tiba2 saja Kak Thisa mnyuruh dia pergi dari kehidupan nya. Dan itu adalah hal yang sangat sulit buat bintang . Bintang pun tidak tinggal diam, bintang mencoba untuk menghubungi nya sayang nya, nmr hp kak thisa sudah tidak aktif lagi, coba tulis pesan di fb , di wall fb, pun tidak ada respon,

Hal itu membuat bintang sangat terpukul, sebenar nya apa yang terjadi , apa yang membuat kak Thisa nya pergi menjauh dari nya. Itu yang ada di fikiran Bintang sekarang

*****

Sudah beberapa pekan ini, Bintang tidak berhubungan dengan kakak nya Thisa , itu membuat semangat nya hilang , apa yang ia kerjakan selalu saja berantakan, dan itu membuat para sahabat nya heran dengan perubahan sikap bintang yg berubah drastis.

Sampai suatu ketika Bintang pun jatuh sakit , dan itu membuat shabat nya sedih ,

Semakin hari kondisi bintang semakin memburuk,

Utk semua sakit bintang ini Hanya ewin salah satu sahabt dekat nya yang tau , sebelum nya bintang pernah cerita dengan dia. Tentang kedekatan nya dengan seseorang lwat dunia maya , ewin pun menceritakan semua ini kepada orang tua nya dan sahabat2 yang lain nya,

Sahabat- sahabat nya pun ikt mencari keberadaan Kak Thisa nya itu, tapi semua itu sia- sia,

Sampai suatu malam, Bintang menyuruh ewin untuk datang kerumah nya

“win, maaf aku merepotkan mu, aku Cuma mau minta tolong ,

Aku mohon kamu mau menemui Kak Thisa dan tolong berikan ini pada nya

(sebuah amplop dan tape recorder )

“Bin, apa ini, dan bagai mna cara aku menmui nya??

Sedangkan aku tdak tau di mana keberadaan nya

“Itu hanya sebuah lagu kok win, Hanya itu yang bisa ku persembah kan buat dia”

Kamu kenal fita win ?? temui dia,dia juga kenal siapa Thisa,

“Win, sampai sekrang aku tidak tau alsan dia seprti itu sama aku,

Sampai sekrang pun dia tidak pernah ada kabar nya,

“Bintang , sudah lah jgn fikirkan hal itu, sekrang kamu istirahat yach ,

Biar cepat sembuh, teman2 semua ,merindukan mu,

“mungkin Aku gk punya waktu lama win, buat melihat mentari esok

“Husss bintangggg, apa yang kamu katakan??,

aku gk mau dengar kamu ngmong gt lagi,

“Ya udah, aku pulang dulu yach bint, maff tdk bias mnemani mu

P.L.M. hehehhe,

‘Hati2 win, thanks sbelum nya,

****

Ewin pun berlalu meninggalkan bintang, sesampai nya d rumah nya , ewin masih memikirkan omongan bintang ““mungkin Aku gk punya waktu lama win, buat melihat mentari esok” itu masih terngiang- ngiang di telinga nya, dia takut terjadi sesuatu hal sama sahabat nya itu, Ia bertekad mulai besog akan menemui Fita meminta alamat nya Thisa Amanda.

****

Hape ewin berdering, ternyata telpon dari ortu nya Bintang, ngasi tau klo bintang sudah tiada .Ewin saat itu tag bisa berkata2, ia shock, hanya air mata yang keluar dari pipi nya.

Sesaat di pemakaman, Ewin dan para sahbat nya, hanya bisa melihat gundukan tanah basah yang ada di depan mereka, tak aka nada lagi Si Penghuni Langit Malam, tak kan ada lagi bintang sahabat nya di antara mereka kini semua hanya tinggal kenangan. Semua hrus mengikhlaskan kepergian bintang.

****

Sebulan sudah kepergian Bintang , kini saat nya Ewin dan para sahabat nya untuk memenuhi permintaan bintang tempo hari, Ewin dan para sahabat nya sudah bertekad bulat untuk menemui Kak Thisa Amanda ,alhamdulilah ewin sebelum nya sudah terlebih dahulu janjian sama Thisa .

Sesampai nya di tempat yang telah di tentukan , Bertemulah ewin dan teman2 Bintang yang lain, sama Thisa dan para sahabat nya. Ewin pun menceritakan semua yang terjadi terhadap Bintang , dan ewin pun menyerahkan Titipan Bintang untuk thisa .

Thisa tak kuat menahan air mata saat mndengar cerita itu, Thisa pun menceritakan semua kenapa ia menyuruh bintang untuk menjauh dari dia, itu ia lakukan karna dia tidak mau, Bintang tersakiti saat mengenal dia, apa lagi bintang di tuduh” suka sesama jenis “ oleh sahabat nya , tpi ternyata keputusan nya itu membuat bintang pergi untuk selama2 nya, .

Para sahabat Thisa yg sudah negative thingking sama bintang pun merasa bersalah tidak seharus nya mereka menuduh tanpa ada alas an yang jelas,

Semua telah terjadi , Bintang hanya akan jadi cerita Masa lalu, Kini Thisa hanya bisa mndengar rekaman sebuah lagu dari Bintang , lagu yang di ciptakan bintang sendri hanya untuk kakak nya Thisa Amanda judul lagu nya

“Hal Terindah Untuk ku (Mengenalmu )”

Tlah ku simpan satu keindahan

Yang tak dapat ku ungkapkan

Dan kini ku sadari Bahwa aku bahagia

Mengenalmu ,

Mengenalmu lebih dekat hingga hati tersa lekat

Mengenalmu isi hari –hari ku

Dan mengenalmu, mengenalmu

Jdi hal terindah untuk ku,

Dari satu pertemuan

Dalam satu kesmpatan


****


 --------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Ku Relakan Bahagia ku Demi Sahabat Ku


Pagi itu, aku terbangun dengan mata yang sembab dan membengkak. Semalam aku menangis di kamar sampai ketiduran. Entah berapa lama aku berderai air mata. Yah, aku baru saja mengalami kejadian yang membuat aku begitu sakit. Seorang cowok yang tanpa sengaja masuk dalam kehidupanku kini malah menghancurkan semuanya......

Aku mengenal Dimas dari Santi,teman dekatku. Kebetulan tiap malem Dimas latihan silat di samping ponpes tempat ku mengaji kala malam hari. Awalnya aku biasa aja dengan kehadirannya. Ga ngefek sama sekali. Tapi hari-hari berikutnya Dimas memulai kedekatan kami dengan sekedar menitip salam padaku. Ga ada yang spesial memang. Tapi hari-hari ku kini mulai terasa indah dengan keberadaanya.

Hanya saja kebahagiaan itu tak berlangsung lama. Disaat aku mulai menyukainya, tak ku sangka Dimas malah nembak Santi. Aku bener-bener ga tau harus berbuat apa. Tentu saja aku tak bisa menyalahkannya karna ini memang hak mereka. Aku mencoba  ikhlas dengan hubungan mereka. Aku berusaha tegar dan mendukung hubungan mereka meski sebenarnya hati ku begitu sakit. Itu semua aku lakukan karna aku masih menghargai Santi sebagai shbat ku. Aku memilih mengalah daripada harus kehilangan sahabat ku hanya karna seorang cowok. Meski hati kecil ku masih tetap mengharapkan Dimas.

Meski pacaran ama Santi,tapi nyatanya tetep aja Dimas ga pernah absent menghubungi ku. Entah sms atau pun telpon. Aku bingung harus bersikap gimana. Karna rasa ikhlas ku lah yang kini menuntunku untuk tetap berhubungan dengan dimas. Jujur saat itu aku benar-benar  telah merelakan Dimas.

Jadi apa salahnya jika aku menerima telpon dan smsnya. Sayangnya pikiranku masih terlalu cetek untuk menyikapi hal itu.  Tentu saja kedekatanku dengan Dimas yang telah ku anggap “teman” itu membuat Santi cemburu. Ia mengira Dimas selingkuh. Dan aku lah selingkuhannya! Kini antara Aku dan Santi serasa ada pemisah yang membuat kami tak lagi bisa seakrab dulu. Ada rasa canggung saat kami ngobrol,seperti orang yang baru kenal.

Hampir  2 tahun lamanya aku tak pernah bertemu lagi dengan Dimas sejak saat itu. Ia tak pernah lagi menghubungiku,atapun Santi. Dimas seperti menghilang di telan bumi. Akupun perlahan bisa menghapusnya dari ingatan ku dan Santi juga telah kembali seperti sedia kala,meski sekarang ia agak tertutup soal cowok.

Kini hari-hari ku semakin berwarna setelah berhasil lolos seleksi dan masuk di SMK favorit di kota ku. Yah,menjadi anak baru tentunya bukan hal yang gampang. Karna aku termasuk anak yang sulit beradaptasi. Aku terlalu cuek dengan apa yang ada di sekitar ku. Namun kini aku telah memiliki beberapa teman akrab.

Tapi hanya satu yang kurasa telah benar-benar akrab. Namanya Putri. Dia temen sebangku ku. Anak nya cukup asyik, meski terkadang ada saat-saat dimana  aku merasa muak padannya. Ada bberapa sifatnya yang tak ku suka. Dia terlalu pede dan kalo ngomong ato ngpapa’’in asal jeplak aja!uukh..yang paling bikin aku sebel saat bersamanya, ngeliat cowok ganteng dikit aja langsung dah tuh kaya ikan kena pancingan. Klepek-klepek ga jelas! Mending kalo di niatinama satu cowok. Nah ini.. tiap ada cowok selaluu aja tingkahnya gtu. Bikin aku tambah mual. Tapi mo diapain juga dia tetep temen terbaik ku(untuk saat ini).

Entah mimpi apa yang ku dapat semalem, pagi itu aku shock setengah mati denger cerita putri soal cowok barunya. Cowok itu... Dimas!! Dimas yang ku kenal bberpa tahun lalu. Yang telah hilang dari kehidupanku setelah menorehkan luka di hati ku. Aku tak habis pikir! Aku memang telah mengenalkan putri pada temen ku yang posisinya juga sbg temen deketnya Dimas.  Tapi aku ga pernah mikir semua ini bakal salah alamat. 

Justru Dimas lah yang kini berpacaran dengan putri. Oh god!! Semoga waktu sedang bercanda..! aku ga mau kejadian itu terulang kembali. Aku takkan sanggup jika harus mengulangnya. Berpura-pura tegar seperti dulu. Aku muak!! Tapi kenyataanya kini,mereka memang pacaran. Tak ada yang bisa ku lakukan selain merelakan mereka. Sama seperti yang ku lakukan dulu. DEMI SAHABAT,!!  T,T
oo0(^_^)0oo
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Ketika Derita Mengabadikan Cinta
Kini tibalah saatnya kita semua mendengar nasihat pernikahan untuk kedua mempelai
yang akan disampaikan oleh yang terhormat prof.Dr.Mamduh Hassan Al Gonzouri.
Beliau adalah ketua Ikatan Doktor Cairo dan direktor Rumah Sakit Qashrul Aini, seorang
pakar saraf terkemuka di Timur Tengah, yang tidak lain adalah juga pensyarah bagi
kedua mempelai. Kepada Professor Mamduh dipersilakan”.Photobucket
Suara pengerusi majlis walimatul urs’ itu bergema di seluruh ruangan majlis
pernikahan nan mewah di Hotel Hilton Ramses yang terletak di tepi Sungai Nil, Cairo.
Seluruh hadirin menanti dengan penuh penasaran, apa kiranya yang akan
disampaikan pakar saraf kelulusan London itu. Hati mereka menanti-nanti, mungkin
akan ada kejutan baru mengenai hubungan pernikahan dengan kesihatan saraf dari
professor yang murah dengan senyuman dan sering muncul di televisyen itu.
Sejurus kemudian, seorang lelaki separuh baya berambut putih melangkah
menuju pentas. Langkahnya tegap. Air muka di wajahnya memancarkan
kewibawaan. Kepalanya yang sedikit botak meyakinkan bahawa ia memang ilmuwan
berjaya. Sorot matanya tajam dan kuat, mengisyaratkan peribadi yang tegas. Sebaik
sampai di pentas, kamera video dan lampu sorot terus menyunting ke arahnya. Sesaat
sebelum berbicara, seperti biasa, ia sentuh bingkai kacamatanya,lalu…
Bismillah. Alhamdulillah. Wash shalatu was salamu’ala Rasulillah. Amma ba’du.
Sebelumnya saya mohon maaf, saya tidak boleh memberikan nasihat lazimnya para
ulama, para mubaligh, atau para ustadz. Namun pada kesempatan kali ini
perkenankan saya bercerita.
Cerita yang hendak saya sampaikan kali ini bukan khayalan belaka dan bukan
cerita biasa. Tetapi sebuah pengalaman hidup yang tidak ternilai harganya, yang
telah saya kecap dengan segenap jasad dan jiwa saya. Harapan saya, mempelai
berdua dan seluruh hadirin yang dimuliakan Allah boleh mengambil hikmah dan
pelajaran yang dikandungnya. Ambillah mutiaranya dan buanglah lumpurnya. Saya
berharap kisah nyata saya ini dapat melunakkan hati-hati yang keras, melukiskan
nuansa-nuansa cinta dan kedamaian, serta menghadirkan kesetiaan pada segenap
hati yang menangkapnya.
Hadirin yang terhormat,
Tiga puluh lima tahun yang lalu. Saya adalah seorang pemuda, hidup di tengah
keluarga bangsawan menengah ke atas. Ayah saya seorang perwira berpangkat
tinggi, keturunan “Pasha” yang sangat terhormat di negeri ini. Ibu saya tak kalah
terhormatnya, seorang lady dari keluarga bangsawan terkemuka di Ma’adi, ia
berpendidikan tinggi, pakar ekonomi lulusan Sorbonne yang memegang jawatan
penting dan sangat dihormati kalangan elit politik negeri ini. Saya anak sulung, adik
saya dua, lelaki dan perempuan. Kami hidup dalam suasana kebangsawanan dengan
aturan hidup tersendiri. Perjalanan hidup sepenuhnya diatur dengan undang-undang
dan norma kebangsawanan. Keluarga besar kami hanya mengenal pergaulan
dengan kalangan bangsawan atau kalangan high class sepadan!
Entah mengapa, saya merasa tidak puas dengan cara hidup seperti ini. Saya
merasa terkongkong dan terbelenggu oleh golongan sosial yang didewa-dewakan
keluarga. Saya tidak merasakan hidup sebenar yang saya cari. Saya lebih merasa
hidup justeru saat bergaul dengan teman-teman dan kalangan bawahan yang
menghadapi kehidupan dengan penuh tentangan dan perjuangan. Hal ini ternyata
membuat keluarga saya gusar, mereka menganggap saya ceroboh dan tidak boleh
menjaga status sosial keluarga. Pergaulan saya dengan orang-orang yang selalu
basah keringat dalam mencari pengalas perut dianggap memalukan keluarga.
Namun saya tidak ambil peduli.
Kerana ayah memperoleh warisan yang sangat besar dari datuk, dan ibu
mampu mengembangkannya berlipat kali ganda, maka kami hidup mewah dengan
selera tinggi. Jika musim panas tiba, kami biasa bercuti ke luar negeri, ke Paris, Rom,
Sydney atau kota besar dunia lainnya. Jika bercuti di dalam negeri, ke Alexandria
misalnya, maka pilihan keluarga kami adalah hotel San Stefano atau hotel mewah di
dalam Montaza yang berdekatan dengan istana Raja Faruq.
Sebaik masuk fakulti kedoktoran, saya dibelikan kereta mewah. Berkali-kali saya
minta pada ayah untuk menggantikannya dengan kereta biasa sahaja, agar lebih
senang bergaul dengan teman-teman dan para pensyarah. Tapi beliau menolak
mentah-mentah.
“Justeru dengan kereta mewah itu kamu akan dihormati siapa sahaja”.Tegas
ayah. Terpaksa saya pakai kereta itu meskipun dalam hati saya membantah pendapat
materialistik ayah. Dan agar lebih selesa di hati, saya meletakkan kereta itu jauh dari
tempat kuliah.
Di kuliah saya jatuh cinta pada teman sekuliah. Seorang gadis yang penuh
pesona zahir batin. Saya tertarik dengan kesederhanaan, kesahajaan, dan kemuliaan
akhlaknya. Dari keteduhan wajahnya saya menangkap dalam relung hatinya
tersimpan kesetiaan dan kelembutan tiada tara. Kecantikan dan kecerdasannya
sangat menakjubkan. Ia gadis yang beradab dan berprestasi, sama seperti saya.
Gayung pun bersambut. Dia ternyata juga menyintai saya. Saya merasa telah
menemukan pasangan hidup yang tepat. Kami berjanji untuk menempatkan cinta ini
dalam ikatan suci yang diredhai Allah, iaitu ikatan pernikahan. Akhirnya kami berdua
lulus dengan nilai tertinggi di fakulti. Maka datanglah saatnya untuk mewujudkan
impian kami berdua menjadi kenyataan. Kami ingin memadu cinta penuh bahagia di
jalan yang lurus. Saya buka keinginan untuk melamar dan menikahi gadis pujaan hati
pada keluarga. Saya ajak dia berkunjung ke rumah. Ayah, ibu dan saudara mara saya
semuanya takjub dengan kecantikan, kelembutan, dan kecerdasannya. Ibu saya
memuji cita rasanya dalam memilih warna pakaian serta tutur bahasanya yang halus.
Selepas kunjungan itu, ayah bertanya tentang pekerjaan ayahnya. Sebaik saja
saya beritahu, serta merta meledaklah badai kemarahan ayah dan terus membanting
gelas yang ada berdekatannya. Bahkan beliau mengancam: “Pernikahan ini tidak
boleh terjadi selamanya!” Beliau menegaskan bahawa selama beliau masih hidup
rancangan pernikahan dengan gadis berakhlak mulia itu tidak boleh terjadi. Pembuluh
otak saya nyaris pecah pada saat itu menahan remuk redam kepedihan batin yang
tak terkira.
Hadirin semua, adakah Anda tahu apa sebabnya? Kenapa ayah saya berlaku
sedemikian kejam? Sebabnya, kerana ayah calon isteri saya itu adalah tukang
cukur…..tukang cukur, ya sekali lagi…tukang cukur! Saya katakan dengan bangga.
Kerana meski hanya tukang cukur, dia seorang lelaki sejati. Seorang pekerja keras yang
telah menunaikan kewajipannya pada keluarganya. Dia telah mengukir satu prestasi
yang tak banyak dilakukan para bangsawan “Pasha”. Melalui tangannya ia lahirkan
tiga orang doktor, seorang jurutera dan seorang leftenan, meskipun dia sama sekali
tidak pernah mengecap bangku pendidikan.
Ibu, saudara dan seluruh keluarga berpihak pada ayah. Saya sendiri berdiri,
tiada yang membela. Pada saat yang sama adik lelaki saya membawa pasangannya
yang telah hamil dua bulan ke rumah. Minta direstui. Ayah, ibu terus merestui dan
menyiapkan biaya majlis pernikahannya sebanyak lima ratus ribu pound. Saya protes
kepada mereka, kenapa ada perlakuan tidak adil seperti ini? Kenapa saya yang ingin
bercinta di jalan yang lurus tidak direstui sedangkan adik saya yang jelas-jelas telah
berzina , bertukar ganti pasangan dan akhirnya menghamilkan pasangannya yang
entah keberapa di luar aqad nikah, malah direstui dan diberi biaya maha besar?
Dengan senang ayah menjawab: “Kerana kamu memilih pasangan hidup dari
golongan yang salah dan akan menurunkan martabat keluarga, sedangkan teman
wanita adik kamu yang hamil itu anak menteri, dia akan menaikkan martabat
keluarga besar Al Gonzouri”.
Hadirin semua, semakin perit luka dalam hati saya. Kalau dia bukan ayah saya
tentu sudah tentu saya maki habis-habisan. Mungkin itulah tanda kiamat mahu
datang, yang ingin hidup bersih dengan menikah dihalangi, namun yang jelas berzina
justeru terus dibiayai. Dan dengan menyebut asma Allah, saya putuskan untuk
membela cinta dan hidup saya. Saya ingin buktikan pada siapa saja, bahawa cara
dan pasangan bercinta pilihan saya adalah benar. Saya tidak ingin apa-apa selain
menikah dan hidup baik-baik sesuai dengan tuntunan suci yang saya yakini
kebenarannya. Itu saja. Saya bawa kaki ini melangkah ke rumah kasih dan saya temui
ayahnya. Dengan penuh kejujuran saya jelaskan apa yang sebenarnya terjadi,
dengan harapan beliau berlaku bijak merestui rancangan saya. Namun la haula wala
quwwata illa billah, saya dikejutkan oleh sikap beliau setelah mengetahui penolakan
keluarga saya. Beliau pun menolak mentah-mentah untuk mengahwinkan puterinya
dengan saya. Bahkan juga bersumpah tidak akan merestui hal itu selamanya, demi
kehormatan keluarganya. Dia tidak rela keluarganya menjadi bahan ejekan dan
hinaan kalangan “Pasha”. Namun puterinya berkeras ingin menikah dengan saya dan
tidak akan menikah kecuali dengan saya. Ternyata beliau menjawabnya dengan
reaksi lebih keras, beliau tidak menganggapnya sebagai anak jika tetap nekad
bernikah dengan saya.
Kami berdua bingung, jiwa kami terseksa. Keluarga saya menolak pernikahan ini
terjadi kerana alasan status sosial, sedangkan keluarga dia menolak kerana alasan
membela kehormatan. Berhari-hari saya dan dia hidup berlinang air mata, beratap
dan bertanya kenapa orang–orang itu tidak memiliki kesejukan cinta?
Setelah berfikir panjang, akhirnya saya putuskan untuk mengakhiri penderitaan
ini. Suatu hari saya ajak gadis yang saya cintai itu ke pejabat ma’adzun syari (petugas
pencatat nikah) disertai tiga orang sahabat karibku. Kami berikan identiti kami dan
kami minta ma’adzun untuk melaksanakan akad nikah kami secara syar’i mengikut
madzhab Imam Hanafi. Ketika ma’adzun menutun saya: “Mamduh, ucapkanlah
kalimat ini: Saya terima nikah kamu sesuai dengan sunnatullah wa rasulihi dan dengan
mahar yang kita sepakati bersama serta dengan memakai madzhab Imam Abu
Hanifah Radiyallahu ‘anhu”. Seketika itu bercucuranlah air mata saya, airmata dia
dan airmata ketiga sahabat saya yang tahu secara detail perjalanan menuju aqad
nikah itu. Kami keluar dari pejabat itu dengan rasmi sebagai suami-isteri yang sah di
mata Allah Subhanahu wa Ta’ala dan manusia. Kami punya bukti sah sebagai suami
isteri yang diakui negara dan diakui syariat. Kami telah bertekad siap mengahadapi
kemungkinan hidup ini murni dengan kekuatan kami, tanpa sandaran dan dukungan
siapa pun kecuali pertolongan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Saya bisikkan dalam
telinga isteri saya agar menyiapkan kesabaran lebih, sebab rasanya penderitaan ini
belum berakhir.
Seperti yang saya duga, penderitaan itu belum berakhir, aqad nikah kami
membuat murka keluarga. Prahara kehidupan menanti di depan mata. Sebaik saja
mencium pernikahan kami, saya diusir oleh ayahku dari rumah. Kereta dan segala
kemudahan yang ada disita. Saya pergi dari rumah tanpa membawa apa-apa.
Kecuali beg lusuh berisi beberapa pasang pakaian dan duit sebanyak tujuh pound
saja, hanya empat pound! Itulah sisa duit yang saya miliki selesai membayar duit aqad
nikah di pejabat ma’adzun. Begitu pula dengan isteriku, ia turut diusir oleh
keluarganya. Lebih tragis ia hanya membawa beg kecil berisi pakaian dan wang
sebanyak dua pound, tidak lebih. Total, kami hanya pegang enam pound atau dua
dolar. Ah, apa yang boleh kami lakukan dengan enam pound. Kami berdua bertemu
di jalanan umpama gelandangan. Saat itu adalah bulan Februari, tepat pada puncak
musim dingin. Kami menggigil. Rasa cemas, takut, sedih, dan sengsara bercampur
aduk menjadi satu. Hanya saja saat mata kami yang berkaca-kaca bertatapan penuh
cinta dan jiwa menyatu dalam dakapan kasih sayang, rasa berdaya dan hidup
menjalari sukma kami.
“Habibi, maafkan Kanda yang membawamu ke jurang kesengsaraan seperti ini
Maafkan kanda!.
“Tidak Kanda tidak salah, langkah yang Kanda tempuh benar. Kita telah berfikir
benar dan bercinta dengan benar. Merekalah yang tidak boleh menghargai
kebenaran. Mereka masih diselimuti cara berfikir anak kecil. Suatu ketika mereka akan
tahu bahawa kita benar dan tindakan mereka salah. Saya tidak menyesal dengan
langkah yang kita tempuh ini, percayalah, insya Allah, saya akan sentiasa
mendampingi Kanda, selama Kanda setia membawa dinda di jalan yang lurus. Kita
akan buktikan pada mereka bahawa kita boleh hidup dan berjaya dengan keyakinan
cinta kita. Suatu ketika saat kita gapai kejayaan itu, kita hulurkan tangan kita dan kita
berikan senyuman kita pada mereka dan mereka akan menangis haru. Airmata
mereka akan mengalir deras seperti derasnya airmata derita kita saat ini.” Jawab isteri
saya dengan terisak dalam pelukan. Kata-katanya memberikan pengaruh yang luar
biasa dalam diri saya. Lahirlah rasa optimisme untuk hidup. Rasa takut dan cemas itu
sirna seketika. Apalagi teringat bahawa satu bulan lagi kami akan dilantik menjadi
doktor. Dan sebagai lulusan terbaik masing-masing dari kami akan menerima
penghargaan dan wang sebanyak 40 pound.
Malam semakin larut dan hawa dingin semakin menggigit. Kami duduk di kaki
lima kedai berdua sebagai orang melarat yang tidak punya apa-apa. Dalam
kebekuan otak kami terus berputar mencari jalan keluar. Tidak mungkin kami tidur di
kaki lima kedai itu. Jalan keluar itu pun datang jua. Dengan sisa wang pound itu kami
boleh meminjam telefon di sebuah kedai dua puluh empat jam. Saya Berjaya
menghubungi seorang teman yang boleh memberi pinjaman sebanyak 50 pound. Ia
bahkan menghantarkan kami dengan keretanya mencarikan lokandat (rumah
penginapan) ala kadarnya yang murah.
Saat kami berteduh dalam bilik sederhana, segeralah kami disedarkan kembali
bahawa kami berada di lembah kehidupan yang susah, kami harus mengharunginya
berdua dan tidak ada yang menolong kecuali cinta, kasih sayang dan perjuangan
keras kami berdua serta rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kami hidup dalam
lokandat itu beberapa hari, sampai teman kami berjaya menemukan rumah sewa
sederhana di daerah kumuh Syubra Kaimah.
Bagi kaum bangsawan, rumah sewa kami mungkin dipandang sepantasnya
adalah untuk kandang binatang kesayangan mereka. Bahkan rumah kesayangan
mereka mungkin lebih bagus dari rumah sewa kami. Namun bagi kami, ini adalah
hadiah dari langit. Apapun bentuk rumah itu,jika seorang gelandang tanpa rumah
menemukan tempat berteduh, ia bagaikan mendapat hadiah agung dari langit.
Kebetulan yang tuan punya rumah sedang memerlukan wang, sehingga dia
menerima aqad sewa tanpa wang jaminan dan wang perkhidmatan lainnya. Jadi
sewanya tak lebih dari 25 pound saja untuk tiga bulan. Betapa bahagianya kami saat
itu, segera kami pindah ke sana. Lalu kami membeli perkakas rumah untuk pertama
kalinya. Tidak lebih dari sebuah tilam kasar dari kapas, dua bantal, satu meja kayu
kecil, dua kerusi dan satu dapur gas sederhana sekali, kipas, dan dua cangkir dari
tanah, itu saja tak lebih.
Dalam hidup yang bersahaja dan belum boleh dikatakan layak itu, kami tetap
merasa bahagia, kerana kami selalu bersama. Adakah di dunia ini kebahagiaan
melebihi pertemuan dua orang yang diikat kuatnya cinta? Hidup bahagia adalah
hidup dengan ghairah cinta. Dan kenapakah orang-orang di dunia merindukan syurga
di akhirat. Kerana di syurga Allah menjanjikan cinta. Ah, saya jadi teringat perkataan
Ibnul Qayyim, bahawa ni’matnya persetubuhan cinta yang dirasa sepasang suami
isteri di dunia adalah untuk memberikan gambaran setitis rasa ni’mat yang disediakan
Allah di syurga. Jika percintaan suami isteri itu ni’mat, maka syurga jauh lebih ni’mat
dari itu semua. Ni’mat cinta di syurga tidak boleh dibayangkan. Yang paling ni’mat
adalah cinta yang diberikan Allah kepada penghuni syurga, saat Allah
memperlihatkan wajahNya. Dan tidak semua penghuni syurga berhak meni’mati
indahnya wajah Allah Subhanahu wa Ta’ala. Untuk mencapai ni’mat cinta itu, Allah
menurunkan petunjuknya iaitu Al-Quran dan Sunnah. Yang konsisten mengikuti
petunjuk Allahlah yang berhak memperoleh segala cinta di syurga.
Melalui penghayatan cinta ini, kami menemukan jalan-jalan lurus mendekatkan
diri kepadaNya. Isteri saya jadi rajin membaca Al-Quran, lalu memakai tudung, dan
tiada putus solat malam. Di awal malam ia menjelma menjadi puteri raja yang cantik
mengghairahkan. Di akhir malam ia menjelma menjadi Rabiah Adawiyah yang larut
dalam samudera munajat kepada Tuhan. Pada waktu siang dia adalah doktor yang
penuh pengabdian dan belas kasihan. Ia memang wanita yang berkarakter dan
berperibadian kuat, ia bertekad untuk menempuh hidup berdua tanpa bantuan siapa
pun, kecuali Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dia juga seorang wanita yang pandai
mengurus wang . Wang sebanyak 55 pound yang tersisa setelah membayar rumah
cukup untuk makan dan pengangkutan selama satu bulan. Tetangga-tetangga kami
yang sederhana sangat mencintai kami, dan kami juga mencintai mereka. Mereka
merasa kasihan melihat kemelaratan dan derita hidup kami, padahal kami berdua
adalah doktor. Sampai-sampai ada yang kata tanpa disengaja: “Ah, kami ingat para
doktor itu pasti semuanya kaya, ternyata ada juga ya yang melarat sengsara seperti
Mamduh dan isterinya.”
Akrabnya persahabatan kami dengan para tetangga banyak mengurangi
nestapa kami. Beberapa kali tetangga kami menawarkan bantuan-bantuan kecil
layaknya seperti saudara sendiri. Ada yang menawari isteri agar menumpangkan saja
cuciannya pada mesin cuci mereka. Kerana kami memang doktor yang sibuk.
Ada yang membelikan keperluan dapur. Ada yang membantu membersihkan
rumah. Saya sangat terkesan dengan pertolongan-pertolongan itu. Kehangatan
tetangga itu seolah pengganti kasarnya perlakuan yang kami terima dari keluarga
kami sendiri. Keluarga kami bahkan tidak terpanggil sama sekali untuk mencari dan
mengunjungi kami.
Yang lebih menyakitkan, mereka tidak membiarkan kami hidup tenang. Suatu
malam ketika kami sedang tidur nyenyak,tiba-tiba rumah kami diketuk dengan kasar
dan ditendang oleh empat penjahat kiriman ayah saya. Mereka merosakkan segala
perkakas yang ada. Meja kayu satu-satunya mereka patah-patahkan, begitu juga
kerusi. Katil tempat kami tidur satu-satunya mereka robek-robek. Mereka mengancam
dan memaki dengan kata-kata kasar. Lalu mereka keluar dengan ancaman: “Kalian
tidak akan hidup tenang, kerana berani menentang Tuan Pasha!” Yang mereka
maksudkan dengan “tuan pasha” adalah ayah saya yang saat itu pangkatnya naik
menjadi jeneral.
Keempat-empat banjingan itu pergi. Kami berdua berpelukan, menangis
bersama-sama berbagi nestapa dan membangun kekuatan. Lalu kami atur kembali
rumah yang hancur. Kami kumpulkan juga kapas-kapas yang berserakan, kami
masukkan dalam tilam dan kami jahit tilam yang koyak-rabak tidak karuan itu. Kami
susun semula buku-buku yang bersepah. Meja dan kerusi yang pecah itu berusaha
kami perbaiki. Lalu kami tidur kepenatan dengan tangan erat bergenggaman, seolaholah
eratnya genggaman inilah sumber rasa aman dan kebahagiaan yang
meringankan tekanan hidup ini. Benar, firasat saya mengatakan ayah tak akan
membiarkan kami hidup tenang. Saya mendapat berita dari seorang teman bahawa
ayah telah merancang scenario keji untuk memenjarakan isteri saya berdua dengan
tuduhan wanita pelacur. Semua orang juga tahu kuatnya pegawai perisik ketenteraan
di negeri ini. Mereka berhak melaksanakan apa saja dan undang-undang berada di
bawah telapak kaki mereka. Saya hanya boleh pasrah segalanya kepada Allah
mendengar hal itu.
Dan masya Allah! Ayah memang merancang rancangan itu dan tidak
mengurangkan niat jahatnya itu kecuali setelah seoarang teman karibku berjaya
memperdaya beliau dengan bersumpah akan berjaya memujuk saya agar
menceraikan isteri saya. Dan meminta ayah untuk bersabar dan tidak menjalankan
skenario itu, sebab kalau itu terjadi pasti pemberontakan saya akan menjadi lebih
keras dan akan berbuat lebih nekad. Tugas temanku itu adalah mengunjungi ayahku
setiap minggu sambil meminta beliau bersabar, sampai berjaya meyakinkan saya
untuk menceraikan isteriku. Inilah rancangan temanku itu untuk terus menghulur waktu,
sampai ayah turun marahnya dan melupakan rencana kejamnya. Sementara saya
dapat mempersiapkan segala sesuatu lebih matang.
Beberapa bulan setelah itu datanglah saatnya masa wajib militer (tentera).
Selama satu tahun penuh saya menjalani wajib militer. Inilah masa yang sangat saya
takutkan, tidak ada kemasukan sama sekali yang saya terima kecuali 6 pound setiap
bulan. Dan saya mesti berpisah dengan belahan jiwa yang sangat saya cintai. Nyaris
selama satu tahun saya tidak dapat tidur kerana memikirkan keselamatan isteri
tercinta. Tetapi Allah tidak melupakan kami, Dialah yang menjaga keselamatan
hamba-hambaNya yang beriman. Isteri saya hidup selamat bahkan dia mendapat
kesempatan bekerja sementara di sebuah klinik kesihatan dekat rumah kami. Jadi
selama satu tahun ini, dia hidup berkecukupan dengan rahmat Allah.
Selesai wajib militer, saya terus menumpahkan segenap rasa rindu pada kekasih
hati. Saat itu adalah musim bunga. Musim cinta dan keindahan. Malam itu saya tatap
matanya yang indah, wajahnya yang putih bersih. Ia tersenyum manis. Saya reguk
segala cintanya. Saya teringat puisi seorang penyair Palestin yang memimpikan hidup
bahagia dengan pendamping setia dan lepas dari belenggu derita.
Sambil menatap ke kaki langit
Kukatakan padanya
Di sana, di atas lautan pasir kita akan berbaring
Dan tidur nyenyak sampai Subuh tiba
Bukan kerana ketiadaan kata-kata
Tetapi kerana kupu-kupa kelelahan
Akan tidur di atas bibir kita
Besok, oh cintaku, besok
Kita akan bangun pagi sekali
Dengan para pelaut dan perahu layar mereka
Dan kita akan terbang bersama angin
Seperti burung-burung
***
Yah, saya pun memimpikan yang demikian. Ingin rasanya istirehat dari nestapa
dan derita. Namun dia ternyata punya pandangan lain. Dia malah berkeras untuk
masuk program Magister bersama. Gila! Idea gila! Fikirku saat itu. Bagaimana tidak. Ini
adalah saat yang paling tepat untuk pergi meninggalkan Mesir dan mencari
pekerjaan sebagai doktor di Negara teluk, demi menjauhi permusuhan keluarga yang
tak berperasaan. Tetapi isteri saya malah terfikir untuk meraih Magister. Saya pujuk dia
untuk menghentikan niatnya. Tapi dia tetap berkeras untuk meraih Magister dan
menjawab dengan logik yang tak kuasa saya tolak:
“Kita berdua paling berprestasi dalam angkatan dan mendapat tawaran dari
fakulti sehingga akan memperolehi keringanan dalam pembiayaan, kita harus
bersabar sebentar menahan derita untuk meraih keabadian cinta dalam
kebahagiaan. Kita sudah kepalang basah menderita, kenapa tidak sekalian kita reguk
sumsum penderitaan ini, kita sempurnakan prestasi akademik kita, dan kita wujudkan
mimpi indah kita.”
Ia begitu tegas. Matanya yang indah tidak membiaskan keraguan atau
ketakutan sama sekali. Berhadapan dengan tekad membaja isteriku,hatiku pun luruh.
Kupenuhi ajakannya dengan perasaan takjub akan kesabaran dan kekuatan jiwanya.
Jadilah kami berdua masuk program Magister. Dan mulailah kami memasuki hidup
baru yang lebih menderita. Kemasukan hanya cukup-cukup untuk hidup, sementara
keperluan kuliah luar biasa banyaknya, dana untuk praktikal, buku dan lain-lain. Nyaris
kami hidup seperti kaum sufi. Makan hanya dengan roti isy dan air. Hari-hari yang kami
lalui lebih berat dari hari-hari awal pernikahan kami. Malam-malam kami lalui bersama
dengan perut lapar, teman setia kami adalah air paip. Ya, air paip. Masih terakam
dalam memori saya, bagaimana kami belajar bersama pada suatu malam sampai
didera rasa lapar tak terkira, kami ubati dengan air. Yang terjadi, kami malah muntahmuntah.
Terpaksa wang untuk beli buku kami ambil untuk beli pengisi perut. Siang hari,
jangan tanya, kami terpaksa puasa. Dari keterpaksaan itu terjelmalah kebiasaan dan
keikhlasan.
Meski sedemikian melaratnya, kami merasa bahagia. Kami tidak pernah
menyesal atau mengeluh sedikit pun. Tidak pernah saya melihat isteri saya mengeluh,
menangis, sedih atau pun marah kerana suatu sebab. Kalaupun dia menangis itu
bukan menyesali nasibnya, tetapi dia lebih merasa kasihan pada saya. Dia kasihan
melihat keadaan saya yang asalnya terbiasa hidup mewah dengan selera high
class,tiba-tiba harus hidup sengsara seperti pengemis. Dan sebaliknya saya juga
merasa kasihan melihat keadaan dia, dia yang asalnya hidup selesa dan makmur
dengan keluarganya harus hidup menderita di rumah sewa yang buruk dan makan ala
kadarnya. Timbal balik perasaan ini ternyata menciptakan suasana mawaddah yang
luar biasa kuatnya dalam diri kami. Saya tidak mampu lagi melukiskan rasa sayang,
penghormatan dan cinta yang mendalam padanya.
Setiap kali saya mengangkat kepala dari buku, yang nampak di depan saya
adalah wajah isteri yang lagi serius belajar. Kutatap wajahnya dalam-dalam. Saya
kagum pada bidadari saya itu. Merasa diperhatikan, dia akan mengangkat
pandangannya dari buku, dan menatap saya penuh cinta dan senyumannya yang
khas. Jika sudah demikian, penderitaan ini terlupakan semua. Rasanya kamilah orang
paling berbahagia di dunia. “Allah menyertai orang-orang yang sabar, Sayang!”
bisiknya mesra sambil tersenyum. Lalu kami teruskan belajar dengan semangat
membara.
Allah Maha Penyayang. Usaha kami tidak sia-sia. Kami berdua meraih gelaran
Master dengan waktu tercepat di Mesir. Hanya dua tahun saja. Namun kami belum
keluar dari derita. Setelah meraih Master pun kami masih mengecap hidup susah, tidur
di atas tilam nipis dan tidak ada istilah makan enak dalam hidup kami. Sampai
akhirnya, rahmat Allah datang jua. Setelah usaha keras, kami berjaya
menandatangani kontrak kerja di sebuah rumah sakit di Kuwait. Dan untuk pertama
kalinya setelah lima tahun berselimut derita dan duka, kami mengenal hidup layak dan
tenang. Kami hidup di rumah yang mewah. Kami rasakan kembali tidur di atas tilam
empuk. Kami kenal kembali makanan lazat setelah kami tinggal sekian tahun. Dua
tahun setelah itu kami pun dapat membeli villa bertingkat dua di Heliopolis, Cairo.
Sebenarnya saya rindu untuk kembali ke Mesir setelah memiliki rumah yang sesuai.
Tetapi isteriku memang “gila”. Ia kembali mengeluarkan idea gila, iaitu idea untuk
melanjutkan program doktor spesialis di London, juga dengan alasan logik yang susah
saya tolak:
“Kita doktor yang berprestasi. Hari-hari penuh derita telah kita lalui dan kita kini
memiliki wang yang cukup untuk mengambil doktor di London. Setelah bertahun-tahun
kita hidup di lorong buruk dan kotor, tak ada salahnya kita raih sekalian tahap
akademik tertinggi sambil merasakan hidup di negara maju. Apalagi pihak rumah sakit
telah menyediakan dana tambahan.”
Ku cium kening isteriku, bismillah kita ke London. Singkatnya, dengan rahmat
Allah, kami berdua berjaya meraih gelaran doktor dari London. Saya spesialis saraf dan
isteri saya spesialis jantung. Setelah memperoleh gelaran doktor spesialis, kami
menandatangani kontrak kerja baru di Kuwait dengan gaji luar biasa besarnya.
Bahkan saya diangkat sebagai doktor ahli sekaligus direktor rumah sakitnya dan isteri
saya sebagai wakilnya. Kami juga mengajar di Universiti. Kami pun dikurniai seorang
puteri yang cantik dan cerdas. Saya namakan dia dengan nama isteri terkasih,
belahan jiwa yang menemaniku dalam suka dan duka, yang tiada henti
mengilhamkan kebajikan-kebajikan.
Lima tahun setelah itu kami kembali ke Cairo setelah sebelumnya menunaikan
ibadah haji di Tanah Haram. Kami kembali laksana seorang raja dan permaisurinya
yang pulang dari lawatan keliling dunia. Kini kami hidup bahagia, penuh cinta dan
kedamaian setelah lebih dari sembilan tahun hidup menderita, melarat dan sengsara.
Mengenang masa lalu, maka bertambahlah rasa syukur kami pada Allah Subhanahu
wa Ta’ala dan bertambahlah rasa cinta kami. Ini cerita nyata yang ingin saya
sampaikan sebagai nasihat hidup.
Jika hadirin sekalian ingin tahu isteri solehah yang saya cintai dan mencurahkan
cintanya dengan tulus tanpa pernah surut sejak pertemuan pertama sampai saat ini, di
kala suka dan duka, maka lihatlah wanita berjilbab biru muda yang menunduk di
barisan depan kaum ibu, tepat samping kiri artis berjilbab Huda Sulthan, dialah isteri
saya tercinta yang mengajrkan bahawa penderitaan boleh mengekalkan cinta, dialah
Prof. Shiddiqa binti Abdul Aziz!”
Tepuk tangan bergemuruh mengiri gegak kamera video menyuting sosok
perempuan separuh baya yang nampak anggun dengan jilbab biru tuanya.
Perempuan itu sedang mengusap cucuran airmatanya. Kamera itu juga merakam
mata Huda Sulthan yang berkaca-kaca, lelehan air mata haru kedua mempelai dan
segenap hadirin yang menghayati cerita itu dengan saksama.




0 komentar
Langganan: Postingan (Atom)

Popular Posts

*** TIPS ***

  • Merawat Rambut Berwarna
  • Mengatasi Rambut Bercabang
  • Merawat Sepatu
  • Resep kecantikan wajah
  • Kado Unik
  • Merawat Gigi
  • Langsing alami ala jepang
  • Berantas jerawat
  • Mengatasi Jerawat
  • Perawatan Wajah
  • Perawatan rambut rontok

Lain-Lain

  • Kahlil Gibran
  • Buku Marketing Plus 2000
  • Hermawan Kertajaya
  • Robert Kiyosaki
  • Kumpulan Film
  • Gudangnya Humor
  • Toko Baju Online
  • Toko Buku Online

Tentang Aku

  • Nama : Ochy Alamat : Jl. Diponegoro No. 315 RT.02/RW.02 Kiduldalem- Bangil-Pasuruan-Jawa Timur-67153 No. Telp : 081 936 866 691 / 081 232 355 501 e-mail : ochy.rosidah@yahoo.com Fb : http://www.facebook.com/Cinta.Kasih.ochy?ref=tn_tnmn

Search

Pengikut

About

Copyright © 2008 KANTOR KEDUA OCHY. All Rights Reserved.
Design by Padd IT Solutions - Blogger Notes Template by Blogger Templates

Ads 468x60px

Featured Posts

Clock


Archive

Copyright (c) 2012 KANTOR KEDUA OCHY. Design by Template Lite
Ochy_ocay And Directory Submission.